AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

Oleh : Drs.H. Karsidi Diningrat, M.Ag

Allah berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” Ali Imran, 3: 104.

Bentuk diam dari amar ma’ruf dan nahi munkar sangat berbahaya. Jika itu terjadi, maka orang yang berbuat kejahatan akan lebih banyak berbuat kejahatan, dan akan terus melakukannya. Demikian juga, orang yang berbuat kelaliman akan lebih banyak berbat kelaliman, dan akan terus melakukannya.

Yang sangat kita sayangkan, justru yang banyak pada masa sekarang ini adalah diam dari melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Manakala kita melihat kemungkaran dengan mata kepala kita, kita tidak bergerak untuk menolaknya, padahal amar ma’ruf dan nahi munkar adalah dua dari sepuluh cabang ajaran Islam. Kita hanya melakukan penolakan dalam hati.

Padahal, yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman. Atau, mungkin kitapun tidak melakukan penolakan sama sekali, termasuk dengan hati. Padahal, diwajibkan atas setiap muslim untuk melatih dirinya melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar dengan tangannya, lidahnya, atau hatinya, sesuai demgan tuntutan keadaan dan kemampuan dirinya, dan sesuai dengan kemungkinan pengaruh yang ditimbulkannya.

Umat Islam pada awal-awal Islam dan masa yang lalu menerapkan dan melaksanakan ajaran amar makruf dan nahi munkar dengan sungguh-sungguh. Namun, pada masa sekarang, hanya sedikit dari kita yang tergerak untuk melakukan amar makruf dan nahi munkar.

Apakah pada masa sekarang hal-hal yang makruf telah berubah menjadi hal-hal yang munkar dan yang munkar menjadi yang makruf? Apakah nilai telah terbalik, sehingga yang baik menjadi buruk dan yang buruk menjadi baik?!

Sesungguhnya kebaikan adalah kebaikan, dan akan tetap merupakan kebaikan; keburukan adalah keburukan, dan akan tetap merupakan keburukan.

Begitu juga, sesungguhnya yang makruf adalah makruf, dan tetap akan menjadi yang makruf; yang munkar adalah munkar, dan akan tetap menjadi yang munkar, walaupun keadaan telah berubah dan zaman telah berganti. Kenyataan yang sangat pahit adalah, terkadang kita bersikap diam terhadap para penguasa lalim, fasik, dan munafik hanya untuk menjaga kepentingan diri kita dan harta dunia yang kita miliki, atau karena takut terhadap intimidasi dan siksaan mereka.

Namun, jika kita pikirkan secara mendalam, niscaya akan jelas bagi kita bahwa bersikap diam dari kelaliman adalah aib yang paling besar bagi manusia.

Bukankah aib bagi orang yang mempunyai akal jika dia melihat penguasa yang lalim melakukan kelaliman atau kedhaliman dan kerusakan, melecehkan wubawa dan kehormatan, mengabaikan dan menginjak-injak hak-hak manusia, menyelewengkan hak-hak Islam, dan menggadaikan negara dan seluruh kekayaan yang ada padanya kepada orang-orang asing dan para penjajah, lalu kita bersikap diam terhadap semua itu?!

Sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya jihad yang paling utama adalah berkata benar di hadapan penguasa yang lalim/dhalim.” “Orang yang diam dari kebenaran adalah setan yang bisu.” Semoga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

1
×
Salam
Can we help you?