Masjid di Incheon, Korea Bukan Sekadar Tempat Ibadah

Masjid di Incheon, Korea Bukan Sekadar Tempat Ibadah

Laporan langsung wartawan Republika Online, Reja Irfa Widodo dari Incheon, Korea Selatan
Bangunan lima lantai itu berdiri megah di salah satu sudut Kota Ansan, tepatnya di Gyeonggi-do, Ansan-si, Danwon-gu, Wongok-do 714-5. Di ujung atas bangunan itu terdapat sebuah kubah berukuran tidak lebih dari 10 meter. Kubah berwarna emas dan sebuah lafaz Allahu Akbar, yang terdapat di bagian atas gedung itu, menjadi tanda gedung ini merupakan tempat ibadah untuk para muslim.
”Ansan Masjid & Islamic Center” yang tertera di bagian depan gedung itu menjadi penanda tambahan fungsi bangunan tersebut. Secara khusus, pengurus masjid, terutama yang khusus dari Indonesia, menamakan masjid mereka ”Sirothol Mustaqim”. Di tempat inilah dakwah, syiar, dan lokasi tempat para penganut Islam berpusat. Tapi ternyata fungsinya lebih dari sekadar tempat ibadah.
Di tempat ini pula, sejumlah tenaga kerja Indonesia yang tengah mengganggur ditampung untuk bisa sekadar melanjutkan hidup di tanah orang. Kondisi inilah yang tengah menimpa dua Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Brebes, Idris dan Zulhar. Sejak kontraknya selama satu tahun di sebuah pabrik spare part kendaraan bermotor selesai pada akhir bulan lalu, Idris dan Zulhar memilih untuk tinggal sementara di Masjid Ansan.
Kini mereka tengah menunggu panggilan dari Dinas Tenaga Kerja setempat terkait perusahaan-perusahaan di Korea Selatan yang tengah membutuhkan tenaga kerja baru. Kepala pengurus mesjid Shirothol Mustaqim, Dwi Cahyono (33 tahun), menjelaskan lantai empat gedung tersebut memang sengaja disiapkan khusus untuk para pendatang asal Indonesia.
Selain untuk tempat shalat, di lantai seluas sekitar 10 meter persegi itu juga terdapat sebuah kamar yang ditempati pengurus mesjid dan TKI yang tingggal sementara. ”Setidaknya kami bisa sedikit memberikan bantuan kepada teman-teman yang sedang menganggur hingga mereka bisa mendapatkan pekerjaan,” kata Dwi kepada Republika Online ketika menyempatkan diri berkunjung ke Ansan di sela-sela gelaran Asian Games ke-17 Incheon, Korea Selatan.
Namun, kondisi ini tidak dengan mudah bisa didapatkan pengurus mesjid Shirothol Mustaqim. Dwi menjelaskan, pada awal proses pengalihan status bangunan tersebut, pihak Indonesia bekerja sama dengan para pendatang Bangladesh, yang sudah lebih dulu menyewa tempat tersebut dan menjadikan lokasi itu sebagai masjid.
Pada awalnya, pihak Bangladesh tidak memperbolehkan lokasi tersebut sebagai tempat menginap. Namun, setelah berjalan negosiasi yang cukup panjang, pihak Bangladesh akhirnya mau menerima kondisi tersebut. Ini tidak terlepas dari sumbangan pendanaan yang lebih besar, ketimbang dari pendatang Bangladesh, untuk bisa membeli gedung itu secara permanen.
”Setidaknya kami memberikan dana sebesar 400 juta won dari 600 juta won yang dibutuhkan. Akhirnya kami bisa menempati lokasi dan ikut memakmurkan mesjid ini,” lanjut pria asal Ponorogo, Jawa Timur tersebut, yang juga bekerja sebagai buruh di salah satu pabrik penyedia alat-alat pemadam kebakaran tersebut.
Sebelumnya, pihak pengurus masjid Shirothol Mustaqim harus menyewa bangunan yang berada sekitar dua km dari lokasinya sekarang. Lokasi itu dianggap terlalu jauh dari pusat Kota Ansan, yang memang dikenal sebagai kota dengan jumlah orang asing, khususnya Indonesia, yang berada di Korea Selatan. Kini, Masjid Ansan dan Islamic Center, ungkap Dwi, menjadi masjid terbesar di Kota Ansan dan diklaim sebagai mesjid terbesar ketiga di seluruh Korea Selatan.
Tidak hanya memberikan tempat untuk bermalam, pengurus Masjid Shirathal Mustaqim dan Islamic Center juga memberikan makanan kepada para TKI yang tengah mengganggur. Sumber dana pembelian makanan tersebut didapat dari sumbangan para TKI yang bekerja di sekitar Ansan. Selain itu, ada pula pendaan yang berasal dari Koperasi. Koperasi itu menyediakan berbagai peralatan sholat, yang memang tidak bisa didapat dengan mudah di Ansan.
Makanan-makanan, seperti mie instan asal Indonesia dan makanan khas Indonesia seperti telur balado ataupun tumis pare bisa didapat dengan mudah. Jadwal memasak pun sudah diatur diantara mereka. Jika sudah waktunya makan, mereka secara bersama-sama makan di atas sebuah nampan besar. ”Seperti di pondok-pondok (pondok pesantren) di Indonesia,” kata pria asal Lombok, yang dipanggi Mas Dar.
Kebersamaan, solidaritas, dan bantuan yang ditunjukan para pengurus masjid Shirothol Mustaqim tentu memiliki nilai dan makna ibadah tersendiri. Di tempat ini, di salah satu sudut kota Ansan, pahala rasanya tidak hanya diraih lewat sholat dan ibadah ritual lainnya, tapi juga memberikan bantuan kepada sesama saudara muslim terutama asal Indonesia.

sumber : republika

Masjid di Incheon, Korea Bukan Sekadar Tempat Ibadah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*