Belajar Dari Zuhudnya Sahabat

Allah Swt. berfirman dalam surat al-‘Ankabut, ayat 64, : “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

Rasulullah Saw. bersabda, : “Ingatlah sesungguhnya dunia ini terlaknat dan terlaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali zikir kepada Allah dan yang mendukungnya, dan orang yang mengajar dan yang belajar.” (HR. Tirmidzi).

Di antara sahabat Nabi yang zuhud itu adalah Mush’ab bin ‘Umair. Dia adalah pemuda Mekah paling makmur dan tampan. Paling kaya dan paling memperhatikan pakaian, makanan, minuman dan wewangiannya sebelum masuk Islam. Begitu masuk Islam, dia meninggalkan kehidupan mewahnya dan zuhud di dunia serta memilih apa yang ada di sisi Allah. Rasulullah menyaksikan perubahan ini dan memberitahukan pada para sahabatnya akan hal itu, sebagaimana para sahabat juga memperbincangkan hal itu di antara mereka.

Khabbab ibnul Arits berkata, “Kita berhijrah bersama Rasulullah dan mengharapkan ridha Allah, kami serahkan pahalanya kepada Allah. Di antara kita ada yang mati dan tidak makan pahala itu sama sekali. Di antaranya adalah Mush’ab bin Umair, dia terbunuh pada Perang Uhud dan menjnggalkan selembar kain. Jika kami tutupkan kepalanya, kedua kakinya kelihatan. Jika kami tutupkan pada kedua kakinya, kepalanya kelihatan. Lalu Rasulullah memerintahkan kami untuk menutupi kepalanya. Dan, kami tutupi kakinya dengan suatu tumbuhan yang wangi baunya. Di antara kita ada yang memetik buahnya dan ia diberi hadiah dengannya.

Di antara mereka adalah Abu Dzar. Ada seorang lelaki yang memasuki rumahnya dan mengintarkan pandangan matanya pada rumahnya dan berkata, “Hai Abu Dzar, aku tidak melihat di rumahmu satu harta dan juga perkakas.” Abu Dzar menjawab, “Kami memiliki suatu rumah dan harta terbaik, kami arahkan ke sana (akhirat).” Lelaki itu menjawab, “Kamu harus memiliki harta di sini selama kamu berada di sini.” Abu Dzar menjawab, “Sesungguhnya pemilik rumah (Allah) tidak membiarkan kami tinggal (selamanya) di dalamnya (dunia).”

Ali bin Abi Thalib berkata, “Aku menikahi Fatimah, aku dan dia tidak memiliki kasur kecuali kulit domba. Kami tidur di atasnya pada waktu malam, dan pada waktu siang kami gunakan untuk alas makanan. Aku tidak memiliki pembantu kecuali dia (Fatimah). Dia membuat adonan roti sendiri sampai rambut di ujung keningnya mengenai wadah adonan karena kerja kerasnya.

Di antara mereka adalah Aisyah. Ia mendapat ribuan dinar, tapi tidak pernah ada yang tetap di tangannya sama sekali. Ia membagikan semuanya kepada orang-orang. Dan, ia tetap berpuasa dan tidak memiliki apa pun untuk berbuka. Sampai budak wanitanya berkata, “Tidakkah kamu bisa membelikan daging dengan satu dirham saja dari yang kamu bagi-bagikan untuk buka puasa kita?” Aisyah lalu menjawab, “Jika kamu tadi mengingatkanku, pastilah akan aku lakukan.” Kezuhudan Aisyah telah melupakan dirinya sendiri dan melupakan kelezatan dan kebutuhan dasarnya. Dia sepenuhnya hanya ingat akan pahala dan ganjaran yang ada di sisi Allah SWT.

Juga di antara orang-orang ahli zuhud adalah al-Faruq Abu Hafsh Umar ibnul-Khaththab. Dia adalah seorang kepala negara dan di tangannya ada harta yang melimpah ruah. Meskipun demikian, dia adalah orang yang sangat menjaga diri dan zuhud sebagaimana perkataan Ali bin Abi Thalib kepadanya, “Kamu menjaga diri, maka rakyatmu menjaga diri mereka. Jika kamu berfoya-foya, maka rakyatmu akan berfoya-foya.” Inilah khalifah yang tidak mau menggunakan minyak karena kelangkaannya pada tahun paceklik dan karena tidak semua rakyatnya bisa mendapatkannya. Dialah khalifah yang memasuki kota Al-Quds dengan memakai pakaian yang bertambal, dan berpidato di hadapan rakyatnya memakai sarung dengan dua belas tambalan dan pada pundaknya ada tiga tambalan.

Suatu kali Umar ibnul Khaththab menemui Amir Adzra’at dengan memakai pakaian dari bahan yang kasar. Umar menyerahkan pakaiannya itu kepada Sang Amir untuk dicuci dan ditambal. Amir lalu mencuci dan menambalnya. Ia lalu membuatkan satu pakaian jenis Qibthi dan menyerahkan keduanya kepada Umar seraya berkata, “Ini pakaianmu dan ini pakaian aku buatkan untukmu untuk engkau pakai.” Umar lalu menyentuhnya dan merasakan halus sekali. Umar berkata, “Aku tidak memerlukannya, ini lebih bisa menyerap keringat daripadanya.”

Beberapa sahabat Rasulullah berkata, “Tidakkah kalian lihat wahai sekalian Muhajirin dan Anshar pada kejuhudan lelaki ini dan kepada sifat yang dimilikinya. Kita hanya memperhatikan diri kita sejak Allah membuka istana Kisra dan Kaisar dengan tangannya, serta belahan Timur dan Barat. Utusan-utusan Arab dan luar Arab sama berdatangan. Mereka melihat pemimpin kita ini dua belas tambalan. Jika kalian tanya wahai sekalian sahabat Muhammad Saw., dan kalian para pembesar adalah orang-orang yang telah berjuang dan berperang bersama Rasulullah, kalian juga orang yang dahulu masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, bisakah kalian mengusulkan agar pemimpin ini mengubah dengan pakaian halus yang membuat tampangnya berwibawa?” Dan, tidak ada satu pun dari sahabat Rasulullah yang berani mengatakan hal itu kepada Umar.

Lalu Aisyah mengatakannya pada Umar. Seketika itu Umar menangis tersedu-sedu, dan berkata, “Aku tanya kamu dengan nama Allah, apakah kamu pernah tahu bahwa Rasulullah kenyang dengan roti gandum selama sepuluh hari atau lima hari atau tiga hari, atau apakah beliau mengumpulkan antara makan malam dan makan pagi sampai bertemu Allah?” Aisyah menjawab, “Tidak.”

Hafsah berkata kepada ayahnya, Umar, “Wahai Amiril Mu’minin, kalau saja kau memakai pakaian yang lebih halus dari pakaianmu, dan memakan makanan yang lebih baik dari makananmu, Allah telah meluaskan rezekimu dan memperbanyak kebaikan.” Umar menjawab, “Aku akan membantahmu dari dirimu, tidak kau ingat kesulitan hidup yang menimpa Rasulullah, begitu juga Abu Bakar?” Lalu Umar mengingatkannya sampai membuat Hafsah menangis. Umar lalu berkata, “Demi Allah, aku akan menyertai mereka berdua, berada dalam hidup seperti hidup mereka berdua yang berat, semoga aku menemukan ridha dalam cara hidup mereka berdua.

Juga sahabat yang bernama Abu Ubaidah, Amir ibnul-Jarrah, yang mendapat gelar “Aminul-Ummah.” Suatu kali Umar memasuki rumahnya dan menemukannya sedang terlentang di atas kain pelana kudanya dan berbantal kantung. Umar lalu berkata padanya, “Tidakkah kamu mengambil seperti yang diambil teman-teman kamu?” Abu Ubaidah menjawab, “Wahai Amirul Mu’minin, ini menyampaikan aku kepada timbangan.

Ketika Umar ibnul-Kaththab tiba di Syam, ia disambut orang-orang dan pembesar penduduk bumi. Umar lalu berkata, “Di mana Saudaraku?” Mereka berkata, “Siapa?” Umar menjawab, “Abu Ubaidah”? Mereka menjawab,”Sekarang dia akan mendatangimu.” Ketika Abu Ubaidah mendatanginya, Umar turun dan memeluknya lalu masuk ke dalam rumahnya dan tidak melihat di dalam rumahnya kecuali pedang, tombak, dan pelana kudanya.

Semoga dengan membaca perikehidupan para sahabat Rasulullah yang kedudukan mereka begitu mulia, agung, dan kalau mereka mau untuk menguasai dunia, mereka bisa, namun itu semua tidak di anggap yang akan menghantarkan mulia di sisi-Nya kecuali kezuhudan. Semoga kita bisa belajar dari kehidupan mereka. Semoga. (KD)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *