Bersikap Zuhudlah [2]

Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa mencintai akherat, akan terancamlah dunianya. Dan barangsiapa mencintai dunia, akan terancamlah akheratnya. Karena itu, hendaklah kamu memilih yang kekal (akherat) daripada yang membinasakan (dunia).” Sabdanya lagi, “Barangsiapa bangun di pagi hari, sedang ingatannya hanya akherat semata, maka Allah akan menghimpunkan segala urusannya, memelihara usahanya, sedang dunia akan datang menyembah kepadanya.”

Zuhud pada hakekatnya ialah, menjauhkan dunia dari hati dan pikiran, sehingga ia tanpak kecil dan tidak berarti. Ketika itu, seorang hamba akan merasakan ketiadaan dunia, atau ia hanya mencintai dan mengutamakan yang sedikit saja daripadanya. Dan yang demikian ini ditinjau dari aspek batiniahnya. Adapun dari segi lahiriahnya, maka seorang yang berzuhud hendaknya berpaling dari urusan harta benda dunia, meski ia mampu dan kuasa mengumpulkannya. Apa yang diambilnya dari harta benda, hanyalah sekedar pencukupan kebutuhan-kebutuhan diri dari makanan minuman,pakaian dan tempat tinggal, disamping beberapa kebutuhan lainnya yang memang sangat diperlukan.

Seseorang yang terlampau menyintai dunia, hatinya sangat cenderung kepadanya, dan senantiasa mengumpulkan harta bendanya, dengan maksud untuk bersenang-senang dan memusskan nafsu syahwat dan kelezatannya, maka orang seperti ini dikatagorikan sebagai pencinta dunia, dan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan masalah zuhud. Tetapi, jika kesayangan dan kecenderungannya kepada dunia dan tidak untuk dinikmati seorang diri, bahkan dibelanjakannya pada jalan-jalan kebaikan dan ketaatan yg bisa mendekatkan dirinya kepada Allah, maka amal seperti ini memang baik, jika niat dan tujuannya ditepati. Namun, hal ini juga tidak kurang bahayanya.

Adapun orang yang senantiasa mengejar dan mengharapkan dunia, sedang dunia yang dikejar dan diharapkannya tidak juga diperolehnya sehingga ia tetap tinggal dalam kemiskinannya, maka si miskin ini bukanlah seorang yang berzuhud. Tetapi, lantaran ia bersabar hidup di dalam kemiskinannya, maka Allah bakal memuliakannya dan membalaskan dengan pahala yang besar, selagi ia tetap sabar dan ridha terhadap ketentuan Allah Swt. Jika seseorang bersenang-senang dalam kehidupan dunia, dan memuaskan dirinya dengan pemenuhan syahwat dan kelezatannya, sedang ia mendakwahkan dirinya bukan sebagai pencinta dunia dan tidak cenderung kepada dunia, maka ia adalah seorang pendusta yang terpedaya.

Pengakuannya tidak mempunyai bukti dan alasan yang bisa dibenarkan. Apabila demikian keadaannya, maka ia tidak mempunyai pimpinan yang bisa dipegang dari para imam yang mendapat petunjuk, ulama shalihin, ataupun para salaf dan khalaf. Oleh karena itu, hendaknya kita memperhatikan masalah ini baik-baik, sehingga Allah memberi petunjuk kepada kita sekalian. Semoga.

/KD

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *