Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa zuhud di dunia maka ringan baginya segala musibah. (HR. Asysyihaab). Dua orang pelahap yang tidak pernah kenyang yaitu penuntut ilmu dan penuntut dunia. (HR. Al-Bazzaaar). Ketamakan menghilangkan kebijaksanaan dari hati para ulama. (HR. Athabrani). Salah satu wasilah untuk mensucikan jiwa adalah zuhud di dunia dan zuhud pada apa yang ada di tangan manusia.

Zuhud di dunia merupakan kedudukan mulia yang biasa ditempati oleh orang-‘orang yang berjalan dalam cahaya Ilahi. Ia adalah memalingkan rasa tidak suka pada sesuatu kepada sesuatu yang lebih baik darinya. Dunia ini akan sirna dan akhirat akan tetap selamanya. Orang yang berakal adalah orang yang mengerjakan untuk yang tetap selamanya mengalahkan yang akan sirna. Sebagaima Firman Allah swt, “Katakanlah, ‘Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.” (an-Nisaa’: 77).

Metode Islam dalam menzuhudkan kita sebagai makhluk yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya pada dunia adalah dengan menjelaskan hakikat dunia dan nilainya di mata Allah’ sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman di bumi, diantaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak.

Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang. Lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemaren. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir.” (QS, Yunus: 24). “Ketahuikah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak’ seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur.

Di akherat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS al-Hadiid: 20) “Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS Faathir: 5). Dari tiga ayat di atas dapat kita garisbawahi bahwa dunia adalah perangkap yang memperangkap orang-orang yang beriman dari akherat, sebagaimana setan memperangkap manusia dari iman, ibadah, dan taat kepada Allah lalu menjerumuskan kita (manusia) ke dalam kebinasaan tak terelakkan.

Karena itu, Allah memperingatkan kita dari fitnah dunia sebagaimana memperingatkan kita agar mewaspadai fitnah setan yang tiada henti menggoda kita dengan dunia dan gemerlapnya. Yang beruntung adalah yang berzuhud di dalamnya dan membencinya serta menyelisihi setan dan hawa nafsunya. Sedangkan, yang celaka adalah orang yang terperangkap dunia serta terkena jerat fitnahnya dan terjerumus dalam jaring dan tipuan setan. Semoga kita terhindar dari bujuk rayu setan durjana. Semoga.

/KD

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masuk

Daftar

Setel Ulang Kata Sandi

Silakan masukkan nama pengguna atau alamat email, anda akan menerima tautan untuk membuat kata sandi baru melalui email.