Rasulullah Saw bersabda, “Dua orang pelahap yang tidak pernah kenyang yaitu penuntut ilmu dan penuntut dunia. (HR. Al-Bazzaar). Seorang sahabat datang kepada Nabi Saw dan bertanya, “Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang bila aku amalkan niscaya aku akan dicintai Allah dan manusia.” Rasulullah Saw menjawab, “Hiduplah di dunia dengan berzuhud (bersahaja) maka kamu akan dicintai Allah, dan jangan tamak terhadap apa yang ada di tangan orang lain, niscaya kamu akan dicintai oleh manusia.” (HR. Ibnu Majah).

Cinta yang sangat pada harta serta ketamakan untuk mengumpulkan dan memperbanyaknya meski sebenarnya tidak memerlukan kecuali sepersepuluh dari yang dimilikinya, ini menjadi perhatian Islam. Islam memperhatikan bagaimana merendam dan mengarahkan cinta ini dan membuatkan manhaj dalam meringankan ketergantungan hati manusia dengan harta. Islam juga mengarahkan kita untuk bekerja dan memberikan infak sebagai salah satu bentuk mentahdzib rasa cinta harta ini. Islam mencegahnya dari sifat tamak, loba, dan egois. Manhaj atau metode ini berdiri pada penyucian jiwa kita dan membebaskannya dari belenggu yang memasungnya. Juga mengeluarkannya dari kebakhilan serta mengantarkannya pada kedermawanan dan infak.

Di antara hal yang dapat menyucikan jiwa dari kebakhilan adalah infak dan sedekah dalam berbagai jalan kebaikan. Karena itu, Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi safaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (al-Baqarah: 254).

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (al-Baqarah: 195).

Islam menetapkan bahwa semua harta yang ada di tangan manusia adalah milik Allah Swt, sebagaimana firman-Nya, “Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu.” (an-Nuur: 33). Juga menetapkan bahwa jamaah diberi kesempatan oleh Allah menguasai harta itu. Firman-Nya juga, “Dan infakkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.” (al-Hadiid: 7).

Allah menjadikan seseorang sebagai wakil dari jamaah untuk berinfak atas nama pribadinya dan yang lainnya. Jika ia baik dalam menjadi wakil dan baik dalam menginfakkan harta, maka ia mendapat pahala infaknya. Jika ia tidak baik menjadi wakil dan buruk dalam menginfakkan dan membelanjakan harta karena bodohnya atau karena hal lainnya, maka ia dilarang untuk membelanjakan hartanya yang pada hakikatnya adalah harta jamaah.

Sebagaimana firman-Nya, “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.” (an-Nisaa: 5).

Allah telah memberikan kehidupan dan harta kepada kita mewajibkan agar sebagian dari harta itu diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan, kaum fakir miskin, dan kepentingan umum yang penting bagi masyarakat. Di antara yang membuat jiwa orang kaya siap menginfakkan hartanya adalah menyalurkannya untuk kepentingan umum.

Islam juga telah menggariskan tujuan menginfakkan harta. Bukan untuk riya dan menyaingi orang lain. Akan tetapi, tujuan dari infak adalah untuk mendapatkan ridha Allah. Artinya, menginfakkan harta dalam semua jalan kebaikan. Allah mencela orang-orang kafir karena mereka menginfakkan harta mereka untuk di lihat dan dipandang orang lain. Dalam hal ini Allah berfirman, “Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Dan barangsiapa yang mengambil setan itu menjadi temannya, maka setan itu teman yang seburuk-buruknya.” (an-Nisaa: 38).

Allah juga memuji kaum mikminin yang memberi makan dengab makanan kepada yang membutuhkan makan demi mendapatkan ridha Allah, demi memperoleh pahala-Nya, dan takut pada siksa-Nya. Sebagaimana firman-Nya, “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberikan makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.’ Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.” (al-Insaan: 8-11).

Semoga kita bisa menyucikan harta kita dengan jalan menginfakkan harta kita untuk mencapai keridhaan-Nya. Aamiin. Semoga. (KD)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masuk

Daftar

Setel Ulang Kata Sandi

Silakan masukkan nama pengguna atau alamat email, anda akan menerima tautan untuk membuat kata sandi baru melalui email.