HINDARI BERBUAT MAKSIAT

Rasulullah Saw. bersabda, : “Janganlah memandang kecil kesalahan (dosa) tetapi pandanglah kepada siapa yang kamu durhakai.” (HR. Aththusi). “Barangsiapa meninggalkan maksiat terhadap Allah karena takut kepada Allah maka ia akan memperoleh keridhoan Allah.” (HR. Abu Ya’li). “Sayyidina Ali Ra berkata, “Rasulullah menyuruh kami bila berjumpa dengan ahli maksiat agar kami berwajah masam.” (HR. Thohawie).

Orang yang beriman dengan hati dan lisan, tetapi melalaikan perintah-perintah Allah Swt. dengan melakukan perbuatan maksiat tiap hari, maka ia berada dalam bahaya yang berat. Sekiranya orang ini tiada mendapat taufik dan petunjuk Allah Swt. untuk segera bertaubat dari dosanya sebelum ajal menjemput, dikhawatirkan akan dimasukan dalam kelompok kaum munafik dan kafir yang akan dicampakkan ke dalam api neraka yang membakar hingga ke pangkal hati.

Kata ‘ ishmah berasal dari kata kerja ‘ ashama , yang berarti mencegah atau memelihara. ‘ Ishmah adalah naluri untuk menghindari maksiat terjaga dari dosa hanya para Nabi dan Rasul.

Rasulullah Saw. bersabda, : “Barangsiapa mencari pujian manusia dengan bermaksiat terhadap Allah maka orang-orang yang memujinya akan berbalik mencelanya.” (HR. Ibnu Hiban). “Demi yang jiwaku dalam genggaman-Nya. Tiada dua orang saling mengasihi lalu bertengkar dan berpisah kecuali karena akibat dosa yang dilakukan oleh salah seorang dari keduanya.” (HR. Adailami).

Allah Azza Wajalla telah berkata dalam hadits Qudsi, “Semua kamu memohon keterjagaan dari dosa kepada-Ku. Jika Aku menjaga kamu semuanya dari dosa, maka bagi siapa ampunan dan Rahmat-Ku? Kita dituntut untuk mengikuti jejak pribadi-pribadi besar tersebut, supaya mencapai tingkat tertentu dalam naluri menghindari dosa dan kesalahan. Kita dituntut untuk menundukkan diri kita dalam memperkuat kemauan dan tekad kita dalam menghindari maksiat dan kesalahan.

Nabi Saw. bersabda, : “Seorang yang berbuat dosa lalu membersihkan diri (wudhu dan mandi), kemudian ia shalat dan memohon pengampunan Allah maka Allah akan mengampuni dosanya. Setelah berkata demikian Rasulullah mengucapkan firman Allah surat Ali Imran ayat 135 : “Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain dari Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji mereka itu sedang mereka mengetahui.”

Allah Swt, berkata dalam sebuah hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku! Ta’atilah Aku, maka Aku akan menjadikanmu seperti-Ku. Aku hidup dan tidak mati, maka Aku akan menjadikanmu hidup dan tidak mati. Aku kaya dan tidak miskin, maka Aku akan menjadikanmu kaya dan tidak miskin. Apa saja yang Aku kehendaki teraksana, maka Aku akan menjadikan apa saja yang kamu kehendaki terlaksana.”

Nabi Saw. bersabda, : “Tiada sesuatu yang dapat menolak takdir kecuali do’a, dan tiada yang dapat menambah umur kecuali amal kebajikan. Sesungguhnya seorang diharamkan rezeki baginya disebabkan dosa yang diperbuatnya”. (HR. Attirmidzi & Al Hakim).

Maka untuk kita agar menjadi orang yang bijaksana, gunakanlah tekad kita dalam menghindari maksiat dan perdosaan. Tujuannya, agar kita mencapai tingkatan tertentu dari hikmah. Tidak ada hikmah kecuali dengan ‘ishmah.

Kepada kita sebagai seorang mukmin yang patuh, hendaknya menetapkan diri kita dalam ketaatan kepada Allah Swt. Tingkatkan ketaatan kepada-Nya dengan sepenuh keikhlasan dan kesabaran. Dan teruskanlah kebiasaan ini hingga kita menemui Allah Swt. kelak Dia meridhai kita dan kita pun ridha kepada-Nya. Semoga Allah menempatkan kita di rumah kemuliaan-Nya, yaitu surga yang dijanjikan.

Supaya kita menjadi orang yang bijaksana, maka gunakanlah tekad kita dalam menghindari maksiat dan kesalahan. Semoga.

/KD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *