Media Zuhud di Dunia

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah bersabda, “Barangsiapa zuhud di dunia maka ringan baginya segala musibah”. (HR. Asysyihaab). “Seorang sahabat datang kepada Nabi Saw. dan bertanya, “Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang bila aku amalkan niscaya aku akan dicintai Allah dan manusia.” Rasulullah Saw. menjawab, “Hiduplah di dunia dengan berzuhud (bersahaja) maka kamu akan dicintai Allah, dan jangan tamak terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya kamu akan disenangi manusia.” (HR. Ibnu Majah).

Di antara hal-hal yang akan menjadikan seseorang zuhud di dunia dan zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia adalah sebagai berikut :

Pertama , memperbanyak mengingat kematiàn. Jika kita banyak mengingat kematian, maka angan-angan kita kepada dunia akan terputus dan tidak memperhatikan harta lagi. Kita akan lebih memperhatikan untuk beramal bagi kehidupan abadi setelah mati.

Sesungguhnya yang menjadikan orang sibuk memikirkan dunianya hingga meninggalkan akhiratnya adalah kelalaian mengingat mati, atau sedikit mengingatnya. Hal itu menjadikan mereka banyak berangan-angan pada kehidupan dunia. Akibatnya, panjangnya angan-angan ini melalaikan mereka dari akhirat dan dari beramal untuk akhirat.

Mereka tenggelam dalam kelezatan dan syahwat dunia. Dalam hal ini Allah subhanahu wata’ala telah berfirman, “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (Al-Hijr’, 15:3)

Rasulullah Saw. telah memerintahkan kaum muslimin untuk memperbanyak mengingat kematian. Karena hal itu mampu menghilangkan nikmat dan syahwat dunia serta menjadikannya beramal untuk akhirat. Rasulullah Saw. telah bersabda, “Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi).

Kedua , ziarah kubur. Di antara media yang membuat zuhud di dunia adalah ziarah kubur. Karena ziarah kubur dapat melembutkan hati dan mengingatkan pada akhirat. Juga bisa menjadi pendorong bagi manusia untuk siap dan beramal untuk akhirat serta meminimalisasi amal dunia.

Karena itu, Rasulullah Saw mendorong ziarah kubur setelah sebelumnya melarang ziarah. Rasulullah Saw telah bersabda, “Aku telah melarang kalian ziarah kubur. Lalu, tampak padaku bahwa ia melembutkan hati, membuat mata menangis, dan mengingatkan akhirat. Maka ziarahilah, dan jangan kalian mengatakan perkataan yang buruk.” (HR. Imam Ahmad).

Imam Tirmidzi r.a. meriwayatkan dalam kitab Sunannya dengan sanadnya sampai kepada Hani’, bekas budak Utsman bin Affan, ia berkata, “Utsman jika berhenti pada suatu kuburan menangis sampai matanya basah. Lalu dikatakan padanya, “Kau mengingat surga dan neraka tidak menangis, dan kamu menangis karena ini?” Utsman menjawab bahwa ‘Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya kubur adalah awal tempat akhirat. Jika selamat darinya, maka setelahnya lebih mudah. Jika tidak selamat, maka setelahya lebih sulit. Aku tidak melihat pemandangan sama sekali kecuali kuburan lebih buruk darinya.”

Ketiga , merasakan keagungan Sang Pencipta dan kedahsyatan azabnya. Sungguhnya jika diri kita merasakan keagungan Tuhan Yang Maha Pencipta dan merasakan betapa dahsyat siksa-Nya, merasakan keberadaan neraka dan segala bentuk azab di dalamnya, juga surga dan segala bentuk nikmat di dalamnya, maka kita akan menghadapkan diri kita total untuk akhirat. Dan, menjadikan dunia ini sebagai jalan bagi akhirat kita. Kita akan zuhud di alam yang kita lewati ini serta lebih banyak berharap dan bergantung pada alam yang pasti akan kita tempati selama-lamanya.

Benar, manusia jika hidup dengan nurani, akal, dan ruhnya berisi kesadaran semacam itu, maka ia akan mengesampingkan nikmat dan syahwat serta lebih terikat dengan yang akan datang.

Rasulullah Saw telah bersabda, “Sesungguhnya aku melihat yang tidak kamu lihat dan aku mendengar yang tidak kamu dengar. Langit menjerit. Ia berhak menjerit. Pada setiap empat jari di langit pasti ada malaikat yang meletakkan keningnya bersujud kepada Allah. Demi Allah, jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, maka kalian pasti akan sedikit tertawa dan banyak menangis, dan kalian tidak akan bernikmat-nikmat dengan wanita di atas kasur. Kalian pasti akan keluar ke jalan-jalan mengangkat suara berdo’a kepada Allah, ‘Aku berharap andai saja aku sebatanh pohon yang ditebang.” (HR. Imam Tirmidzi).

Keempat , melihat pada yang lebih rendah, bukan yang lebih tinggi. Di antara media yang membantu zuhud di dunia, hendaknya diri kita tidak melihat orang yang ada di atas diri kita atau lebih kaya dari kita, dan hendaknya kita tidak berusaha untuk mencapai sejajar dengan orang lain. Karena usaha semacam itu hanya akan menyibukkan urusan dunia dan melupakan akhirat.

Adapun jika kita melihat yang ada di bawah kita, maka kita akan tenang dan zuhud. Rasulullah Saw. telah bersabda, “Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan kalian melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Dia lebih pantas untuk tidak merendahkan nikmat Allah daripada kalian.” (HR. Imam Muslim).

Kelima , lapar dan kesusahan hidup. Sesungguhnya lapar juga bisa membantu diri kita zuhud dalam kehidupan dunia ini. Karena itulah, Rasulullah menjadi kepala negara paling agung sering merasakan lapar teramat sangat. Rasa lapar mengingatkan kepada Allah dan mengingatkan pentingnya memohon pertolongan Allah. Inilah yang dipilih oleh Rasulullah.

Rasulullah Saw. telah bersabda, “Tuhanku menawarkan kepadaku untuk menjadikan bukit-bukit di Mekah sebagai emas bagiku. Kukatakan, ‘Tidak wahai Tuhanku, tetapi aku ingin kenyang satu hari dan lapar satu hari. Jika aku lapar aku akan mengiba kepada-Mu dan aku akan mengingat-Mu. Dan, jika aku kenyang, aku akan bersyukur kepada-Mu dan memuji-Mu.” (HR. Imam Tirmidzi).

Lebih lanjut Imam Tirmidzi juga meriwayatkan dalam kitab Sunannya dengan sanadnya sampai kepada Abu Hurairah bahwa Rasulullah keluar pada waktu tidak biasanya keluar, dan tidak menemui seseorang. Abu Bakar r.a. lalu menemuinya. Rasulullah bertanya, “Apa yang membuatmu datang hai Abu Bakar?” Abu Bakar berkata, “Aku keluar menemui Rasulullah dan aku melihat wajahnya lalu mengucapkan salam padanya, sampai datanglah Umar. Maka Rasulullah bertanya, ‘Apa yang membuatmu datang hai Umar?” Rasulullah lalu berkata, “Dan aku telah merasakan sebagian itu.” Mereka lalu bergegas ke rumah Abu Haitsam ibnut-Taihan al-Anshari, dia memberi makan dan minum mereka. Abu Thalhàh berkata, “Aku mengadukan kepada Rasulullah rasa lapar, kami melepaskan dari perut kami sebuah batu dan Rasulullah melepas dua batu.”

Keenam , media yang bisa menjadi zuhud adalah menemani ahli zuhud. Kita sebagai makhluk Allah yang paling sempurna pasti terpengaruh oleh teman dan kawan. Jika mereka saleh dan ahli zuhud, maka kita akan terpengaruh oleh kesalehan dan kezuhudan mereka dan berusaha untuk bisa seperti mereka. Sesungguhnya seseorang itu mengikuti agama temannya. Dalam hal ini, Rasulullah Saw telah bersabda, “Seseorang mengikuti agama temannya, maka salah seorang di antara kalian lihatlah siapa yang menemaninya.”

Dalam hadits yang lain beliau bersabda, “Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk yang buruk adalah seperti pemilik minyak misik dan tungku tukang besi. Dari pemilik minyak misik kalau kau tidak membelinya, maka kau akan mendapatkan wanginya. Dan tungku tukang besi akan akan membakar rumahmu, atau pakaianmu atau kau akan mendapatkan asap yang pengap (menyesakkan napas).”

Semoga kita tetap istiqamah untuk meraih hidup dengan betzuhud. Semoga.

/KD

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *