Mulia menurut Islam

Al-Fajr[89] : 15-16

فَاَمَّا الْاِنْسَانُ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ رَبُّهٗ فَاَكْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَكْرَمَنِۗ ،
وَاَمَّآ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ ەۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَهَانَنِۚ
Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.”
Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku.”

Tadabbur
Kemuliaan dan kehormatan sering dinilai dengan harta. Banyak harta mulia, sedikit harta hina. Kaya terhormat. Miskin terlaknat. Ukuran mulia bukan pada harta. Kebahagiaan tidak ditentukan banyak sedikitnya materi. Kemuliaan itu ketika memulikan Sang Pemberi kemuliaan. Kehormatan itu karena menghormati. Belajar menghargai jangan menyakiti. Jadilah tinggi meninggikan, bukan rendah merendahkan. Hormat menghormati, bukan hina menghinakan. Sayang menyayangi, bukan benci membenci.

28 Januari 2020
Shabah Syamsi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *