Zuhud Pada Kekuasaan

Setan adalah sebagai makhluq ghaib yang mempunyai peranan penting di dalam peristiwa-peristiwa ghaib dan tahayul, sihir dan azimat, semua itu dijadikan alat dan jalan oleh setan di dalam menggelincirkan ummat manusia ke arah jalan yang sesat. Setan sebagai tertuduh dalam keterlibatan peristiwa ini.

Bila kita katakan bahwa setan sebagai tertuduh, bukanlah berarti bahwa hanya setanlah yang dipersalahkan, tetapi tergantung juga kepada manusia yang memang bisa digoda oleh setan tersebut. Jadi keterlibatan setan memang telah kita ramalkan dan dengan bukti-bukti dari agama, namun bila manusia dapat digoda setan, hal itu bukan hanya setanlah yang bersalah, tetapi manusia yang telsh diberi akal oleh Allah dan bimbingan Qur’an dan Sunnah Rasul juga ikut bertanggung jawab atas kesalahannya itu.

Dengan kata lain, setan adalah musuh manusia yang paling sengit. Tujuannya tidak lain adalah untuk merusak kemanusiaan manusia. Musuh tidak mengenal bahasa lain kecuali permusuhan dan penyerangan. Dia akan menyusup dari lobang dan pintu mana saja yang memungkinkan dia masuk.

Termasuk pintu masuk bagi setan ke dalam jiwa manusia adalah adanya sifat suka keabadian dan kekuasaan. Dari pintu ini setan masuk dan menyesatkan manusia. Allah telah mengisahkan bagaimana setan menyesatkan Adam dan istrinya Hawa, “Maka setan membisikan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata, :

“Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon itu, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).” Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, ‘Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua’. Maka, setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah pohon itu, tampaklah baginya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupi dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka, ‘Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu, ‘Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua.'” (Al-A’raaf: 20-22).

Dalam firman-Nya yang lain, “Kemudian setan membisikan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, ‘Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa.” (Thaahaa: 120).

Banyak ulama salaf yang zuhud dari kekuasaan dan pemerintahan karena mereka takut jabatan-jabatan itu akan merusak masa depan mereka di akhirat, atau akan menyebabkan penurunan kualitas beragama mereka. Di antara mereka adalah Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi. Pasukan Romawi menawannya dalam sebuah peperangan, mereka membawanya menghadap kepada raja mereka. Sang raja berkata, “Masuklah kamu ke dalam agama Nasrani dan aku akan membagikan sebagian kerajaanku padamu dan menikahkan putriku denganmu!” Abdullah menjawab, “Seandainya kamu memberikan semua yang kau miliki dan segala yang dimiliki orang Arab agar aku keluar dari agama Muhammad saw. satu kedip mata sekalipun, maka aku tidak akan melakukannya.” Sang raja berkata, “Kalau begitu, aku akan membunuhmu!” Abdullah menjawab, “Lakukanlah itu.”

Kemudian sang raja memerintahkan membawanya. Raja menyalibnya dan memerintahkan para pemanah. Mereka membidiknya dekat dengan tangan dan kaki. Sang raja terus membujuknya untuk masuk agama Nasrani dan Abdullah tetap tidak mau. Raja memerintahkan menurunkannya. Kemudian memerintahkan mendatangkan periuk. Didatangkanlah seorang tawanan muslim dan memasukan ke dalam periuk itu di depan mata Abdullah. Tawanan itu seketika tinggal tulang belulang yang menggelojot, lalu ditawarkan kembali kepada Adbullah untuk masuk Nasrani dan tetap tidak mau.

Dan ada sahabat Nabi Saw. yang bernama Abdurrahman bin Auf. Ia zuhud dari mengepalai daulah Islamiyah. Ia adalah salah satu dari enam kandidat yang dicalonkan setelah wafatnya Umar ibnul Khaththab. Namun, ia mengundurkan dan meminta kepada kaum muslimin untuk memilih antara Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Semoga dengan belajar sejarah para ulama salaf yang menolak untuk dijadikan pemimpin atau diberi jabatan dan kekuasaan untuk dijadikan pelajaran kita. Semoga kita istikomah dalam dahsyatnya kehidupan ini. Semoga. (KD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *